Ramuan Kesehatan Paru-paru

Caranya membuat ramuan untuk menjaga kesehatan paru-paru ini sangat mudah. Pertama-tama, siapkan terlebih dahulu 400 gram bawang, dua sendok teh kunyit, jahe satu inci, madu 400 gram serta satu liter air.

Kemudian rebus air, lalu campurkan potongan bawang dan parutan jahe ke dalam air rebusan, diamkan hingga air mendidih.

Setelah air mendidih campurkan lagi kunyit yang sudah dihaluskan, kemudian angkat dan dinginkan.

Air rebusan yang telah dingin tersebut kemudian disaring untuk memisahkan ampasnya. Ingat! Jangan membuat masalah baru dengan mengkonsumsi ampas ramuan ini juga, ini bukan malah menjaga kesehatan paru-paru.

Setelah disaring, air rebusan tersebut sebaiknya dimasukkan ke dalam wadah botol dan simpan di lemari es agar awet dikonsumsi beberapa hari kedepan, sehingga tidak repot untuk membuatnya setiap saat.

Adapun cara mengonsumsinya yaitu dengan meminum air rebusan sebanyak dua kali sehari pada pagi hari sebelum makan dan malam hari setelah makan (ringan). Dosis yang dianjurkan cukup dua sendok makan setiap kali minumnya.

Dengan mengkonsumsi air rebusan itu secara rutin, akan membantu menghilangkan racun di paru-paru akibat kebiasaan merokok.

Sumber: kebuners.com

Iklan

Menulis di Bulan Maret

Bulan ini rasanya saya sangat malas menulis. Tidak hanya menulis, membaca juga malas. Biasanya tiap pemberitahuan blog yang saya ikuti saya sempatkan membacanya, tapi akhir-akhir ini banyak saya abaikan dan membaca seperlunya saja.

Kawan-kawan blogger sebetulnya banyak memberikan inpirasi dan informasi yang bermanfaat. Blog masih lebih menarik ketimbang media sosial lain semisal facebook. Facebook sudah seperti tempat sampah yang hampir setiap orang bebas melampiaskan isi pikirannya di beranda.Tak jarang pula dijadikan wadah saling maki, sebar fitnah, dan berita palsu.

Membaca semestinya menjadi nutrisi pikiran, dan menulis adalah proses metabolismenya. Seperti halnya menu makanan, 5 sehat 6 sempurna. Yang sempurna adalah menulis. Dan menulis bukan asal menulis. Sebelum dituangkan dan dipublikasikan kepada khalayak, tulisan harus benar-benar matang dan bermanfaat.

Saya ingin konsisten menulis minimal 5 tulisan perbulan. Tapi apa daya, malas dan kehilangan inspirasi adalah penyebabnya.

Mbak Dian

Mbak Dian ini, andai mbak ku yang satu ini mencalonkan diri jadi gubernur DKI, aku rela dan senang hati menjadi tim suksesnya. Kalau tidak dapat jatah jubir, jadi tukang bawa-bawa spanduk saat kampanye juga tak mengapa. Aku ikhlas. Tanpa pamrih. Aku punya seribu alasan kenapa mbak Dian layak jadi gubernur. 

Alasan yang pertama, tentu saja karena parasnya. Dia cantik. Itu pasti. Tidak pakai kata relatif. Dalam keadaan banjir pun, mbak Dian tetap cantik. Mas-mas dan mbak-mbak jangan protes ya. Cantik itu bukan SARA tapi takdir. Kalau tidak percaya, buka kembali kitab antropologi mu. Baca baik-baik!

Yang kedua, basis massanya jelas: semua suku bangsa yang pernah dibikin ‘baper’ oleh film AADC 1 & AADC 2. Mereka pasti menjadi pendukung loyal, dan cenderung fanatik. Pendukung lainnya: semua jenis manusia yang masih berharap balikan sama mantan kekasihnya, yang diam-diam mereka ternyata masih saling mencintai. 

Yang ketiga, soal asal asul. Mbak Dian tak diragukan lagi dari keluarga mana ia berasal. Ia adalah trah Sastrowardoyo. Siapa itu Sastrowardoyo? Maaf, aku juga tidak tahu.

Dan masih ada 997 alasan lainnya yang tak mungkin cukup kalau aku tulis semuanya di sini. 

Mbak Dian juga orangnya simpel. Kalau keadaan sangat sepi, cukup ia bilang, “pecahkan saja gelasnya!”

Lalu, bagaimana kalau mbak Dian ternyata kalah telak dengan pesaingnya? Mbak Dian pasti tak akan meniru gayanya mas Agus. Yang berpidato tulus dan ksatria mengakui kekalahan. Mbak Dian cukup lari ke hutan lalu belok ke pantai. Karena mbak Dian orangnya tidak gampang ‘move on’. Ia tetap setiap menunggu walau tanpa kabar, meski ratusan purnama sekalipun. Tapi aku yakin mbak Dian pasti menang. Dan rakyat kita pasti akan menang.

__

NB: Aku luruskan. Agar tulisan di atas tidak menjadi polemik di kemudian hari dan mengancam kedaulatan rumah tanggaku, maka kusampaikan bahwa Dian Sastro memang cantik, tapi di mataku istriku jauh lebih cantik.

Sahabat

Satu dasawarsa tak pernah berjumpa. Juga tak pernah bertukar kabar. Terakhir kali bertemu di pasar Mannananti-Sinjai, menjelang lebaran waktu itu, saat ia baru saja ditempat-tugaskan di daerah konflik Poso, menjalani hari-harinya sebagai seorang polisi muda yang gagah.

Muhammad Takbir. Saya biasa memanggilnya Abbi sebagai sapaan akrab. Pagi ini, lewat pesan WA, ia bertanya kabar kepada saya. Saya jawab dengan kabar baik.

Rupanya ia dapat fesbuk saya di grup Alumni SMP dan mendapati nomer WA saya di situ, yang sempat saya posting beberapa waktu lalu.

Takbir, kawan seangkatan saya semasa SMP, dan bertemu kembali di SMA juga pada sekolah yang sama, tapi beda kelas waktu masih kelas 1 dan kelas 2. Saya dan dia bersua lagi di kelas 3, ketika sama-sama memilih jurusan terbaik: Mazhab IPS, dalam ruang IPS 1. Dan saya dipilih oleh suara mayoritas untuk menjadi ketua kelas di kelas 3 IPS 1.

Di kelas 3, saya satu genk denganya, bertiga dengan Anhar yang setamat SMA juga memilih berkarir di kepolisian. Takbir pernah gagal masuk SPN Batua, lalu mencoba lagi, dan akhirnya nasib menerimanya sebagai abdi negara di barisan kostum coklat tersebut.

Sama-sama remaja, sama-sama berkostum putih abu-abu, membuahkan banyak pengalaman konyol yang tentu saja di antaranya ada yang tidak layak dicontoh sebagai pelajar. Terutama soal bolos sekolah. Di kelas 3, bolos sudah menjadi rutinitas kami. Hampir semua laki-laki melakukkannya. Kecuali mereka yang konsisten sebagai siswa baik-baik. Mereka menolak untuk ikutan. 

Sebelum berangkat ke sekolah, kami membiasakan sarapan di rumah tantenya Takbir, di rumahnya Puang Menda. Menu nasi goreng telur orak-arik menjadi energi pengantar menuju sekolah. Takbir juga tinggal di situ. Karena rumah kami jauh di kampung. 

Menjelang pukul 10, kami kembali lagi, bersembunyi di kamar, memutar musik, memilih Ada Band dan Padi untuk menemani pelarian kami dari kelas, sambil merokok dan minum kopi atau teh. Kadang-kadang eksta joss campur susu. Begitu seterusnya hingga menjelang kelulusan. Prinsip murahan yang selalu kami pegang erat-erat, “Siapa juga yang lulus nantinya kalau bukan kita, tidak mungkin tukang becak”. Walau sebenarnya kami juga tahu, tidak mungkin tukang becak yang tidak lulus karena bukan mereka yang sekolah.

Ketika pulang kampung kami sering bersama. Kadang pulang 3 kali dalam seminggu. Menunggangi Satri Biru Kuning saya yang bensinnya ia telah tanggung. Atau kalau tidak punya uang, saya sering minta bensin gratis ke Anhar. Dia punya SPBU di Litha. Orangtuanya Anhar dikenal paling kaya se-Sinjai waktu itu.

Terakhir saya bersama Takbir waktu hari penandatangan ijazah. Saya berboncengan pulang. Di jalan ia menendang seseorang karena diklakson tapi tidak mau menepi. Karena itu, seisi kampung hampir saja mengeroyok kami. Di antaranya ada yang bawa parang panjang. Untung saja seseorang menyelamatkan kami. Yang saya kenal orang itu adalah pamannya Takbir. Untung saja…

Bapak itu Disingkat SBY

​Dalam Pilkada DKI, menurut saya, dukungan SBY ke Agus Harimurti adalah dukungan yang paling logis dan paling tulus. Bahkan satu-satunya ketua partai politik yang paling ikhlas memberi dukungan kepada salah satu kandidat gubernur itu. Anies atau pun Ahok, terpilih atau tidak menjadi gubernur DKI nantinya, dukungan dari Prabowo untuk Anies dan dukungan Megawati untuk Ahok hanyalah sementara, tak akan abadi. Ia hanya sebatas dukungan basa-basi politik. Karena politik itu dinamis. Arah ke depannya susah ditebak. Maka fatal akibatnya jikalau mencampur-adukkan kebencian dan politik seperti yang selama ini jadi menu wajib di media sosial dan di warung kopi. Dalam urusan politik, tak ada tempat untuk ‘benci’ karena dunia politik juga tak mengenal kata’cinta’.

Agus tentu saja berbeda. Agus seorang anak dari SBY. Dan SBY adalah seorang bapak, mantan presiden dua periode, yang sekaligus berperan sebagai ketua partai politik salah satu pengusung sang anak sebagai kandidat gubernur DKI itu. 

Agus, walau pun nantinya tersingkir dari pertarungan memperebutkan kursi gubernur DKI, ia akan tetap kembali ke rumah bapaknya dan tentu masih disambut dengan pelukan hangat oleh sang papa. “Kau anakku, kau tetap yang terbaik”.  SBY tentulah masih punya jalan lain untuk anak kesayangannya itu.

Begitulah seorang bapak. Melihat anak-anaknya berhasil adalah nalurinya. Bahkan jika harus melukai orang lain pun, seorang anak tetap akan dibela. Dan SBY paham, menempatkan anaknya itu sebagai gubernur di Ibukota-jika terpilih nanti- adalah salah satu pilihan terbaik. Dan mungkin saja menjadi pijakan awal untuk memimpin Indonesia ke depannya, jika berhasil.

Di Kabinet Gotong royong, kita juga belum lupa seorang anak perempuan bernama Puan Maharani. Seorang menteri yang dikenal nir-prestasi dan minim kinerja tapi tetap masih bisa duduk santai di Menko Pembangunan Manusia. Tak bisa dipungkiri karena ada peran dan kasih sayang bunda di sana. Ibu mana yang tega melihat anaknya jadi pengangguran. Dan Bu Mega termasuk orang yang tidak tega itu.

Saya tulis ini bukan untuk memberi dukungan pada salah satu kandidat gubernur DKI. Bukan. Saya juga tidak ikut-ikutan terusik dengan panasnya arena tempur Pilkada DKI. Tidak sama sekali. Tapi semata karena saya seorang anak dari seorang bapak, dan bapak dari seorang anak. Di mata bapak, sedewasa dan semandiri apa pun seorang anak, ia tetaplah asset yang sangat bernilai dan tetap ia jaga walau tubuhnya sendiri mulai rapuh.

Ujian

Banyak di antara kita merasa tangguh, merasa hebat, merasa paling idealis, namun belum pernah berbenturan dengan ujian hidup yang mampu dilalui.

Di dunia ini ada tiga godaan hidup seperti yang sering orang sebutkan, yakni harta, tahta, dan wanita. 

Oke, mungkin kita bisa mengabaikan tawaran jutaan rupiah, puluhan juta, atau ratusan juta. Tapi bagaiman kalau di hadapan kita tergeletak uang dengan jumlah milyaran? Trilyunan? 

Baiklah, abaikan uang itu. Lewati saja. Tapi tahta datang menghampiri. Lebih menggiurkan dari uang trilyunan tadi, karena kepemilikan atas atas tahta mampu membuat kita disembah oleh orang lain. Sanggupkah kita menampiknya?

Pun kita bisa mengabaikan tahta, tapi bagaimana dengan wanita? Misalnya, si cantik bokong montok, pemilik payudara aduhai, bibir seksi, suara liar, mata penuh syahwat, datang menawarkan cinta. Sanggup kah kita menenangkan ikan tongkol? Sementara masa pubertas tak kenal batas usia.

Dan jangan pernah lupa, kita adalah keturunan manusia pemakan buah khuldi, turun ke bumi karena khilaf. Tapi diberi amanah yang cukup berat: menjadi khalifah.

Malang, Kota yang Dirindukan

Aku tidak pernah bisa melepas memoar dalam hidupku. Seperti halnya ketentuan Sang Khaliq, memoar adalah salah satu takdir-Nya. Kalau Tuhan masih mengizinkan aku untuk selalu mengingat, maka aku akan terus berupaya menolak pikun. Karena hidup manusia seluruhnya adalah kenangan, selebihnya adalah harapan.

Kenangan adalah sejarah paling orisinil. Suatu fakta yang pernah dilalui. Ia hadir menjadi catatan peristiwa yang paling jujur.

Dan fakta-lah yang menjadi saksi bahwa aku pernah ada di Malang, empat tahun lamanya. Empat puluh delapan purnama bukanlah waktu singkat yang bisa dilalui dan dipungkhiri begitu saja.

Sebab alasan studi menjadi awal aku harus ada di ‘kota bunga’ itu. Sebuah keputusan terindah. Sekaligus perlawanan terhadap nasib, bahwa manusia tidak akan menjadi utuh tanpa melengkapi dirinya dengan pengetahuan dan pengalaman.

Berkenalan dengan arek-arek Malang adalah pengalaman sosiologis, karena aku bugis dan mereka jawa. Mencatatkan diri menjadi bagian dari mahasiswa Kampus Putih adalah pengalaman akademis. Sementara mengenal mahasiswinya adalah pengalaman romantis. 

Malang selalu menjadi bumi yang dirindukan, bagi siapa saja yang pernah beristirahat sejenak atau pernah berdiam di sana.